KILAS BALIK, SENIN, 04 MEI 2026
Hari Pertama
Pelatihan Khotbah
v
Hari pertama pelatihan khotbah
berlangsung dengan suasana yang hidup dan penuh harapan. Para peserta hadir
secara bertahap, sehingga pembukaan yang dijadwalkan pukul 10.00 WIB dimulai
sekitar pukul 10.15 WIB. Keterlambatan kecil ini justru menjadi cermin realitas
pelayanan pastoral; tidak selalu berjalan ideal, tetapi selalu sarat makna
karena bersentuhan langsung dengan dinamika hidup umat.
v
Kegiatan dibuka dan dipandu
oleh Kat. Alboin Sitanggang, S.Ag., lalu dilanjutkan dengan Ibadat Pembuka
AsIPA yang dipimpin oleh Kat. Stefanus Hulu, S.Pd., M.Fil. Dalam suasana doa
yang hening dan khidmat, para peserta diajak menyadari bahwa pelatihan ini
bukan sekadar belajar teknik berbicara, melainkan sebuah perjalanan untuk
semakin dekat dengan Sabda yang hidup_Sabda yang menggerakkan, menyapa, dan
mengubah.
v
Dalam sambutannya, Ketua Tim
RD. Marthin L. Halawa, S.Ag., M.Fil., menekankan pentingnya kesungguhan
mengikuti setiap proses. Pelatihan ini menjadi bagian dari tindak lanjut hasil
Sinode, sebuah panggilan nyata agar para pelayan Sabda mampu mewartakan Injil
secara bertanggung jawab, tajam, dan menyentuh hati umat.
v
Pengenalan jadwal oleh Kat.
Stefanus Hulu, S.Pd., M.Fil. sempat diwarnai gangguan teknis. Namun suasana
segera mencair melalui sesi perkenalan antar paroki. Sapaan khas seperti
“Ya’ahowu!!” dan “Horas!!” menggema penuh semangat, disambut tepuk tangan
meriah_sebuah awal yang hangat, seolah menegaskan bahwa pelatihan ini bukan
hanya tentang belajar, tetapi juga tentang membangun persaudaraan.
v
Sesi pertama dibawakan oleh RP.
Dionisius Laia, OFMCap., S.Ag., Lic.Th., dengan tema Proses Persiapan dan
Aneka Kerangka Khotbah. Ditekankan bahwa khotbah yang menyentuh bukanlah
hasil spontanitas, melainkan buah dari doa, pergulatan dengan Kitab Suci, dan
permenungan yang jujur. Peserta diperkenalkan berbagai kerangka khotbah_sebuah
“peta jalan” yang membantu pewarta agar tidak tersesat dalam kata-kata, tetapi
tetap setia pada pesan Injil.
v
Antusiasme peserta terasa
nyata. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul bukan sekadar teoritis, melainkan
berakar dari pengalaman konkret. Ada kerinduan yang kuat; bagaimana agar
khotbah tidak hanya terdengar, tetapi benar-benar “mendarat” dan menghidupkan
iman umat.
v
Kebersamaan semakin hangat saat
makan siang. Percakapan ringan, tawa sederhana, dan perkenalan spontan menjadi
“ruang tak resmi” yang justru mempererat persaudaraan_sebuah energi tersembunyi
yang memperkaya seluruh proses pelatihan.
v
Sesi kedua masih bersama RP.
Dionisius Laia, OFMCap., yang mengangkat kerangka khotbah berbasis pengalaman
hidup yang diterangi Kitab Suci. Suasana semakin dinamis. Salah satu pertanyaan
yang mengundang senyum adalah tentang durasi khotbah. Dengan mengutip Paus
Fransiskus, beliau menegaskan: 7-10 menit sudah cukup-lebih dari itu, risiko
kehilangan perhatian umat semakin besar. Pesan yang kuat, singkat, dan tepat
sasaran jauh lebih “menggigit” daripada panjang tanpa arah.
v
Memasuki sore hari, RD. Marthin
L. Halawa, S.Ag., M.Fil., membawakan materi tentang Seputar ilustrasi. Dalam
sesi ini ditekankan bahwa ilustrasi digambarkan sebagai “bumbu”- bukan hidangan
utama. Ia harus relevan, segar, logis, dan tidak berlebihan. Sumbernya bisa
dari Kitab Suci, hidup para kudus, maupun karya sastra. Peserta diajak cermat:
ilustrasi yang tepat bisa membuat Sabda terasa dekat, bahkan “menggoda hati”
untuk direnungkan lebih dalam.
v
Sesi berikutnya oleh Kat.
Ingatan Sihura, S.Ag., mengupas Seni Membawakan Khotbah. Ditekankan
bahwa pewartaan tidak hanya soal isi, tetapi juga cara membawanya. Pewarta
adalah duta Allah, bukan sekadar pembicara. Bahasa tubuh, intonasi, dan sikap
batin menjadi bagian dari kesaksian itu sendiri. Para peserta tampak serius
menyimak, meski sesekali muncul senyum kecil, antara paham dan masih mencerna.
v
Menjelang sesi malam, suasana
di meja makan menjadi ruang perjumpaan yang hangat dan penuh warna. Para
peserta duduk berkelompok, berbagi cerita ringan, pengalaman pelayanan, hingga
kisah-kisah lucu yang memancing tawa. Di tengah hidangan sederhana, terjalin
percakapan yang akrab-seolah jarak antar paroki perlahan menghilang. Ada yang
saling bertukar ide tentang khotbah, ada pula yang sekadar menikmati
kebersamaan sambil melepas lelah setelah rangkaian materi seharian. Momen ini
terasa begitu “mengenyangkan”, bukan hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi relasi
dan semangat pelayanan. Dari meja makan itu, tumbuh rasa persaudaraan yang
diam-diam menguatkan-sebuah energi yang membuat setiap peserta semakin siap
untuk kembali menyelami Sabda dengan hati yang lebih terbuka.
v
Setelah makan malam, sesi
dilanjutkan oleh RD. Yusuf N. Lase, S.Fil., Lic.Th., mengenai Prinsip-Prinsip
Penafsiran Kitab Suci. Peserta diajak masuk lebih dalam: memahami konteks,
kesatuan Kitab Suci, dan keselarasan dengan iman Gereja. Diskusi berlangsung
hidup. Bahkan muncul pertanyaan jenaka tentang “rumus rahasia” menemukan
kata-kata indah. Jawabannya sederhana namun tajam: yang utama bukan keindahan
kata, melainkan kesetiaan menjadi suara Kristus.
v
Menutup hari, Kat. Ingatan
Sihura memandu penjelasan tugas latihan. Peserta mulai menyusun bahan khotbah
mereka masing-masing-sebuah langkah konkret dari teori menuju praktik. Sesi
diakhiri dengan doa bersama, menyerahkan seluruh proses kepada Tuhan.
v
Secara keseluruhan, hari
pertama ini bukan hanya memberi pengetahuan, tetapi juga menyalakan api
kerinduan. Para peserta tidak sekadar belajar menyusun khotbah, tetapi mulai
merasakan panggilan untuk menghadirkan Sabda yang hidup, Sabda yang bukan hanya
didengar, tetapi mampu menyentuh, menggugah, dan perlahan mengubah kehidupan
umat.

Posting Komentar
Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.