Hari Raya Pentekosta, 24 Mei 2026
Bahasa Pentakosta
Bahasa Cinta dan Saling Pengertian
Kisah para Rasul 2:1-11
Mazmur 104:1ab, 24ac, 29b, 30,1,34
1 Korintus 12:3b-7,12-13
Yohanes 20:19-23
******************************
Pada
suatu hari, Si buta dan Si pincang berpapasan di persimpangan jalan yang sangat
padat arus lalu-lintasnya. Karena cacat fisik yang dialami, maka terasa sulit
bagi mereka untuk menyebrang jalan. Mereka berteriak meminta pertolongan, namun
tidak seorang pun yang mempedulikan mereka dengan pelbagai alasan yang masuk
akal.
Setelah
usaha mereka terasa sia-sia, terbersitlah sebuah gagasan menarik dalam diri Si
pincang. Si pincang mendekati Si buta dan berkata, “Kawan, saya yakin, jika
kita mengharapkan bantuan manusia yang sehat, terasa sangat mustahil bagi kita
untuk menyebrangi jalan ini karena padat dan ramainya arus lalu-lintas. Namun,
tidak mustahil bagi kita untuk bisa menyebrangi jalan ini jika kita menyatukan
mata dan kaki kita. Matamu menjadi mataku juga dan kakiku menjadi kakimu juga”
Si
buta binggung dan bertanya, “Bagaimana mungkin matamu bisa menjadi mataku dan
kakimu menjadi kakiku?
Jelas
Si pincang, “Itu, sih, gampang. Matamu rusak sehingga tidak bisa melihat,
tetapi kakimu tidak. Sedangkan, kakiku pincang sehingga tidak bisa berjalan,
tetapi mataku bisa melihat dengan jelas arah jalan yang harus dilewati. Karena
itu, pergunakan kakimu untuk berdiri di atas titian tanah ini dan berlangkah di
jalan ini sembari membopong saya. Dengan mata yang jelas, saya mengamati
ramainya arus lalu-lintas dan memberikan aba-aba mengenai arah jalan yang harus
dilewati”.
Si buta menerima gagasan itu
dengan senyum merekah seraya berkata, “Marilah kita satukan mata dan kaki
kita.”. Kaki Si buta berpijak di atas tanah,..tangannya membopong Si pincang.
Dengan pengamatan yang tajam, sembari memeluk erat tubuh Si buta, Si pincang
mulai memberikan isyarat: Maju, berhenti…maju dan maju”. Akhirnya, dengan menyatukan
kaki dan mata…hati mereka pun menyatu…Mereka pun mampu menyebrangi jalan
kendati arus lalu-lintas dipadati aneka jenis kendaraan.
Peristiwa Pentakosta adalah
peristiwa lahirnya persekutuan iman dan kasih yang baru, yaitu Gereja.
Persekutuan ini terbentuk karena manusia yang berasal dari aneka lapisan suku:
Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Frigia,
Pamfilia, Mesir, Libia, Roma, Yahudi, Kreta dan Arab menyatukan mata, hati,
gerakan hati dan iman mereka sebagai pengikut Kristus. Wujud kesatuan
persekutuan ini terbina apik sehingga mereka rela berbagi, saling mendukung dan
mengisi kekurangan dalam hidup mereka sebagaimana tercermin dalam cara hidup
jemaat perdana. Satu-satunya daya vital yang mempersatukan mereka dalam persekutuan
iman ini adalah Cinta. Cinta, serentak melunturkan tingginya rasa ego di dalam
diri mereka; mempersatukan dan menggerakkan rasa peduli, empati dan kemauan
untuk berbagi dalam hidup mereka. Jika cara hidup Jemaat Perdana dan resep
manjur dari Si Buta dan Si Pincang senantiasa terpupuk dalam sanubari kita:
Hartamu menjadi hartaku… Milikku menjadi milikmu… Matamu menjadi mataku… Kakimu
menjadi kakiku.. maka tidak mustahil, saat ini juga akan tercipta langit dan
bumi yang baru..Gereja yang berwajah baru.
Namun, jika kita cermati
kenyataan yang ada, patut diakui bahwa cara hidup Jemaat Perdana dan resep
manjur Si Buta dan Si Pincang semakin luntur dalam persekutuan iman kita saat
ini. Hal ini terjadi karena tingginya egoisme diri dan lunturnya semangat cinta
dalam diri manusia Katolik. Hukum Cinta, dasar dari segala hukum, hukum baru
yang dimaklumatkan di saat turunnya Roh Kudus pada peristiwa Pentakosta,
seolah-olah hanya terpahat dan tertulis di atas prasasti batu, bukan di dalam
hati sanubari kita sehingga dengan mudah saling mengabaikan, saling memeras dan
menindas, cuek dan tidak peduli, hilangnya rasa simpati dan empati, tidak mau
repot dan acu tak acu kepada sesama yang lain. Hidup kita menjadi ajang
persaingan untuk saling memeras dan mematikan, bukan sebagai ajang untuk
berbagi cinta, padahal kita semua adalah insan pencinta dan pewarta cinta.
Kalau boleh, saya lukiskan kenyataan hidup kita saat ini, dengan kenyataan ini:
**************
Dua orang pengunjung melihat
seorang pria berpakaian mewah keluar dari Gereja. Dia memakai jam tangan emas
dan sepasang cincin mahal dijarinya. Di depan Gereja, pria itu segera
dikerumuni dan dikerubuti oleh sekelompok pengemis. Pria kaya itu tidak mempedulikan
mereka; bahkan ia mengusirnya dengan muka masam dan kata-kata yang menyakitkan.
Tidak lama kemudian, sebuah sedan BMW hitam keluar dari tempat parkir Gereja
dan berhenti tepat di depan pria kaya itu.
Mobil itu kabur bersama pria
kaya itu. Para pengunjung bertanya kepada yang lain, “Siapakah pria kaya itu?
“Pastor baru! Jawab pengunjung itu. “Aneh, ya…di Gereja, baru saja ia
membawahkan suatu kotbah yang indah! Tentang apa? “Tentang mencintai orang
miskin”.
Anekdot ini melukiskan kenyataan umum sikap kaum
berjubah. Sikap ini terjadi karena hukum cinta hanya terpahat di bibir, bukan
di hati.
Peristiwa Pentakosta, saat turunnya Roh Kudus menjadi awal masa Perjanjian Baru. Pada saat itu
juga dimaklumkan hukum baru, yaitu hukum cinta yang menjadi dasar segala hukum.
Itu berarti, dengan hukum cinta, Allah tidak hanya memberikan pelbagai aturan
untuk menertibkan kehidupan manusia, tetapi memberikan Roh-Nya sendiri agar
manusia lebih kreatif dalam mencintai Allah dan sesamanya.
Karunia Roh adalah Karunia untuk
Mencinta dan Bahasa Roh adalah Bahasa Cinta (Bukan bahasa yang membuat orang
tenggeng dan berbicara tanpa kata). Karunia Roh ini menyebabkan manusia mampu
berbicara dalam pelbagai bahasa, yaitu bahasa cinta dan saling pengertian.
Karunia Roh juga memampukan manusia mengkomunikasikan pengalaman imannya
sehingga dapat hidup lebih rukun dan lebih bersatu; peduli, empati, saling
mendukung dan mengisi kekurangan dalam hidup. Kalau, dahulu, manusia
tercerai-berai karena kesombongan untuk membangun menara Babel, kini dalam
kekuatan, Roh manusia dipersatukan dalam bahasa cinta; bahasa kasih dan saling
pengertian.
Tidak jarang para penyaksi Kristus saat ini yang
memberikan penafsiran harafia akan arti bahasa Roh yang sesungguhnya. Bahasa Roh yang dianugerahkan Yesus adalah
bahasa yang bisa dimengerti oleh siapa pun saja, yaitu tindakan kasih;
perbuatan baik; bahasa kasih/bahasa cinta. Jika saya memberikan sesuap nasi
kepada orang Etiophia di saat lapar, dia pun akan tersenyum dan mengucapkan
berganda terimakasih kepada saya melaui senyumannya, karena saya tahu bahwa dia
senang dan dia akan berbuat baik kepada saya. Jika saya mendampingi dan
menuntun seorang tua dari desa yang tersesat di kota ke alamat yang di tuju,
sementara saya tidak mengerti bahasanya, dia akan tahu bahwa saya akan
membantunya; dia akan mengucapkan terimakasih berganda kepada saya melalui
tatapan matanya yang ramah dan saya pun mengerti akan rautnya yang syarat makna
walau tanpa bahasa.
Buah Roh
Dalam bahasa Paulus, bahasa Roh
adalah buah Roh: kasih, kegembiraan, kecintaan akan kedamaian, kesabaran,
kemurahan hati, kesetiaan, kelemahlembutan, pengertian, simpati dan empati,
penguasaan diri (Gal 5:22). Setiap pengikut Kristus yang bangkit dituntut untuk
senantiasa mengisi diri dan kehidupan dengan buah-buah Roh; gizi rohani di
dalam kehidupan kita sehingga tubuh dan jiwa kita menjadi sehat; memungkinkan
kita untuk keluar mengubah hati ribuan orang yang mendambakan cinta dan miskin
akan cinta. Panggilan yang kita emban akan
bermakna apabila api Roh yang diterima diteruskan untuk membakar dan
mengubah orang lain dan dunia sekitarnya.
Melakukan Yang
Baik
Pengikut Kristus yang bangkit
adalah setiap pribadi yang sudah dibakar oleh Api Roh Kristus. Dengan datangnya
dan dibakarnya dengan Api Roh itu, maka setiap pengikut Kristus memiliki
kecenderungan untuk melakukan hal yang baik; menjadi manusia yang dinamis
karena setiap saat mengalami perubahan ke arah yang baik. Api Roh Kristus
membakar dan mengubah pengikut-Nya tanpa henti sehingga membuat semua orang
tercengang, terkagum dan memberikan diri mereka sebagai orang yang terbaptis.
Masihkah Api Roh Kristus
bernyala di dalam diri kehidupan kita; di dalam keluarga dan komunitas kita, di
dalam Gereja, stasi dan lingkungan kita? Masihkah kehadiran saya, pribadi yang
sudah dibakar dengan Api Roh Ilahi membawa mekar-mekar cinta, simpati dan kasih
sayang kepada sesama? Jika kehadiran saya menyatukan, menyembuhkan, menciptakan
kebaikan, dirindukan dan terkadang mengganggu bagi siapa saja yang hidup dalam
kegelapan, maka saya sudah hidup dalam Api Roh. Namun, jika kehadiran saya
membawa pelbagai kehancuran, keretakan, pertikaian, pemerasan, itu berarti yang
ada dalam diri saya, bukanlah Roh Cinta, melainkan roh Idi Amin, Hitller,
Beelzebul dan roh para teroris….
Juara Peras
Pada
suatu hari, beberapa negara mengadakan pertandingan yang menarik, namun unik.
Yang terlibat dalam pertandingan itu adalah beberapa wakil dari negara-negara
berkulit hitam, Bule, Kuning dan Sawo matang. Jenis acara yang dipertandingkan sesungguhnya
tidak istimewa; hanya memeras handuk basah. Siapa yang berhasil memeras dan
mengucurkan air lebih banyak dari handuk yang basah itu, dialah yang dinyatakan
sebagai sang juara.
Pertama:
orang hitam yang terkenal kuat dan perkasa. Diiringi tempik sorang para
penonton, si hitam yang perkasa mengangkat handuk dan memeras sekuat tenaganya
hingga sobek. Namun air perasan hanya segelas yang tertampung.
Kedua:
Orang bule yang tersohor karena keangkuhannya dan terkenal canggih karena
teknologinya. Walau berkutat hingga kehabisan tenaga, hingga keringgat dingin
bercucuran, air perasan yang tertampung hanya setengah ember.
Ketiga:
Orang berkulit kuning yang menguasa dua pertiga penduduk dunia dengan segala
kecerdikan dan keuletannya. Diakui bahwa mereka meraja lela di jalanan; di
pasar dan istana orang berpangkat. Namun, ketika mereka memeras handunk yang
basah, air yang mengucur hanya seember saja.
Keempat:
Orang berkulit sawo matang, wakil negara kita. Sosoknya kecil, kerempengan;
pucat-pasit hingga wakit negara lain mencibir bibir kala memandangnya. Mana
munkin manusia sekurus ini bisa menandingi kita? Namun, aksi si sawo matang
justru mencengangkan mereka. Walaupun si sawo matang ini terhuyung saat
mengangkat handunh, namun ketika memeras, air perasan bertumpah-ruah memenuhi
isi ruangan perlombaan. Akhirnya si sawo matang dinobatkan sebagai sang juara.
Dengan
takjub, para lawanya bertanya, “Sungguh mengherankan. Bagaimana mungkin Anda
yang kurusan ini dapat memeras handuk hingga airnya bertumpah ruah?
Sambil
membusungkan dadanya, si sawo matang yang kurusan menjawab, “Hai tuan-tuan.
Anda tidak bisa menyaingi saya dalam jenis perlombaan ini. Di negeri saya, soal
peras memeras merupakan pemandangan biasa dan sudah membudaya di hati kami.
Setiap hari kami selalu mendengungkan moto hidup kami: Memasyarakatkan pemeras
dan memeras masyarakat. Kami tidak memiliki hati lagi untuk sesama.
Mengapa sikap mayoritas manusia Indonesi demikian? Karena
hati manusia Indonesia tanpa cinta....
Selamata
Bermenung....
Salam Kasih...
Selamat
Pentekosta....
Dio Ti
Benedica....
Alfonsus Very
Ara, Pr

Posting Komentar
Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.