Hari Minggu Paskah VII, 17 Mei 2026 Kisah para Rasul 1:12-14 Mazmur 27:1.4,7.8a 1 Petrus 4:13-16 Yohanes 17:1-11a “Aku telah Memuliakan Engkau di Bumi Dengan Menyelesaikan Pekerjaan-Pekerjaan-Mu”

 



Hari Minggu Paskah VII, 17 Mei 2026

Kisah para Rasul 1:12-14

Mazmur 27:1.4,7.8a

1 Petrus 4:13-16

Yohanes 17:1-11a

“Aku telah Memuliakan Engkau di Bumi

Dengan Menyelesaikan Pekerjaan-Pekerjaan-Mu”

*****************************************************

 

Mark Twain adalah seorang penulis terkenal Amerika. Dia sangat terkenal dan dikenal oleh dunia karena cerita-ceritanya yang menarik dan menggugah. Walaupun orangnya sangat kasar, namun karena kejeniusannya, maka dia tetap dikagumi oleh lingkaran sastra Amerika dan Eropa.

Pada suatu saat, Mark Twain diundang oleh Kaisar German supaya mereka saling mengenal. Ketika anak gadisnya mengetahui bahwa ayahnya diundang oleh seorang Kaisar, dia pun berkata kepada bapaknya, “Ayah, engkau mengenal hampir semua orang penting di dunia ini. Hanya satu sosok yang tidak ayah kenal, yaitu Allah, Sang Pencipta.”

Mungkin apa yang dikatakan anak gadis kepada ayahnya, Mark Twain berlaku untuk banyak orang, termasuk diri kita sendiri. Kita mengenal banyak orang dan mengetahui banyak hal, namun kita belum, bahkan tidak mengenal sosok Allah yang sesungguhnya. Ada di antara kita yang ingin mengenai Allah, namun tidak berusaha sungguh-sungguh untuk mengenal-Nya.

******************

Dalam Doa syukur-Nya kepada Allah, Bapa-Nya, Yesus berbicara mengenai bagaimana seharusnya mengenail Allah. “ Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar dan mengenai Yesus Kristus yang telah Engkau Utus” (Yohanes 17:3).

Dalam isi doa syukur-Nya ini, Yesus menyatakan bahwa sosok Allah yang sesungguhnya dikenal dalam diri-Nya dan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Dia adalah Sabda Kekal Allah yang menjelma menjadi manusia. Dia tinggal bersama kita (manusia) untuk menyatakan Wajah dan Hati Allah kepada kita.

Yesus menyatakan Wajah dan Hati Allah kepada kita melalui hidup-Nya sendiri, yaitu melalui perkataan, perbuatan dan pekerjaan-Nya. Seluruh kehidupan Yesus dirangkum dalam kata-kata agung ini: Wajah dan Hati Yesus adalah Wajah dan Hati Allah sendiri. Seluruh hidup Yesus adalah “Cerita mengenai Hidup Allah yang Mahaagung dan Mahamulia bagi kita dan untuk keselamatan kita”. Isi Cerita Hidup Allah dalam diri Yesus nyata dalam perkataan, perbuatan dan pekerjaan-Nya yang unik, menakjubkan dan penuh daya dalam hidup dan karya-Nya sejak penampilan-Nya di hadapan umum hingga kematian dan kebangkitan-Nya.

 

Sebagai Cerita Hidup Allah:

 

o   Yesus menyatakan Wajah dan Hati Allah yang peduli, setia kawan dan penuh bela rasa dengan berjalan keliling, menelusuri pertepian danau untuk menjumpai, menyapa dan menyinari jalan kehidupan para nelayan serta mengubah profesi mereka sebagai nelayan menjadi penjala manusia.

o   Yesus memuliakan Allah dengan menelusuri pinggiran desa dan kampung untuk menjumpai orang yang putus asa dan kehilangan harapan karena kesulitan hidup akibat penindasan, ketidakadilan, diskriminari, dilecehkan dan dibuang dari pusat kehidupan untuk memulihkan martabat manusiawi mereka.

o   Yesus memuliakan Allah dengan memasuki, mendekati dan menyentuh hati semua orang yang dijumpai-Nya untuk menyembuhkan penderitaan mereka akibat penyakit kusta, kerasukan roh jahat, buta, tuli, bisu, timpang.

o   Yesus memuliakan Allah dengan memasuki kawasan kumuh yang dihuni oleh pemungut cukai dan pelacur  kelas kakap untuk menyatakan bahwa mereka berharga di mata Allah dan menyembuhkan mereka.

 

Demi kemuliaan Allah dan untuk memuliakan Allah, Yesus rela “berjalan kaki,” menelusuri semua lorong kehidupan manusia sambil “berbuat baik” untuk sembari “menyalurkan cinta serta kebaikan Allah” kepada manusia, ciptaan-Nya. Yesus memperlihatkan cinta dan bela rasa Allah yang mendalam kepada kita yang hina karena dosa-dosa kita dalam kerelaan-Nya merendahkan dan menghambakan diri-Nya: Dia rela berlutut di depan kaki para murid-Nya  untuk mencuci kaki mereka dan rela menjadi Santapan Kehidupan bagi semua ciptaan-Nya agar semuanya beroleh hidup dan memperolehnya dalam kelimpahan. Dengan kerelaan-Nya menghambakan diri, Yesus menyatakan bahwa Allah yang Mahakuasa dan Mahaagung harus menjadi kecil dan hina supaya bisa tinggal dalam hati kita yang terbatas dan hina karena dosa serta bergerak dan bekerja dalam diri kita untuk mengubah kehinaan hati kita menjadi Takhta Kediaman-Nya yang mulia. Cinta kasih-Nya yang tulus hingga rela menghambakan diri-Nya adalah Kemuliaan Wajah dan Hati Allah yang Sejati.

Puncak dari pekerjaan Yesus untuk menyatakan Wajah dan Hati Allah serta memuliakan-Nya adalah cinta dan korban-Nya di kayu salib. Di puncak salib, Yesus menyatakan Wajah dan Hati Allah sebagai “Sumber Segalanya”, “Sumber Kehidupan bagi ciptaan-Nya. Semua yang dikerjakan-Nya berasal dari Bapa dan menyelesaikan semua pekerjaan-Nya dalam kesatuan-Nya dengan Bapa-Nya.

Semua pekerjaan yang dilakukan Yesus terarah pada satu tujuan, yaitu menyatakan cinta, kebaikan dan kedalaman bela rasa Allah kepada kita. Dia berjalan sambil “berbuat baik” untuk mengajarkan kita bahwa:

 

o   Kemuliaan Allah yang sesungguhnya adalah diri kita yang sungguh hidup dalam kasih Allah dan melakukan pekerjaan-pekerjaan kasih Allah.

o   Semua kebaikan dan keindahan dalam diri kita berasal dari Allah serta menuntun kita kepada cinta dan kebaikan Allah.

o   Diri dan kehidupan kita juga akan menjadi kemuliaan Allah apabila hidup kita menghasilkan buah yang baik melalui perbuatan-perbuatan cinta dan kebaikan, rela merendahkan diri untuk melayani dan berbela rasa kepada sesama.

 

Karena itu:

 

o   Marilah kita memuliakan Allah dalam diri kita “dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah”.

o   Pekerjaan Allah adalah pekerjaan yang kecil dan sederhana, namun akan membawa kita kepada kemuliaan apabila dilakukan dengan hati yang penuh cinta. Seorang ibu sedang kelelahan setelah seharian bekerja tanpa saat jedah. Namun setelah santap malam, dia rela dan tulus mendengarkan cerita anaknya mengenai kesulitannya mengikuti pelajaran di kelas serta membantu anaknya. Ibu ini sudah melakukan kebaikan dan sudah memuliakan Allah kepada anaknya. Seorang bapak sedang gundah gulana, merasa tertekan karena usahanya gagal. Namun dia tidak melampiaskan kekesalannya dengan minuman keras, memarahi istri dan anak-anaknya, tetapi mengambil rosario dan memanjatkan doa kepada Allah. Bapak ini sudah memuliakan Allah dengan mengalahkan setan gulana dan tertekan. Seorang Ikom (Ibu Komunitas di sebuah susteran) ingin marah karena kesalahan yang dilakukan suster novisnya. Namun, dia membendung amarahnya dengan memanggil dan mendengarkan cerita novisnya mengenai alasannya melakukan kesalahan. Ikom ini sudah memuliakan Allah melalui pekerjaannya.

o   Marilah kita merajut dan menenun hidup kita menjadi “cerita kemuliaan Allah” melalui kebaikan-kebaikan yang kita lakukan kepada sesama, terutama kepada orang-orang yang membenci dan memusuhi kita.

 

 

Selamat Bermenung...

Salam Kasih...

Buona Domenica....

Dio Ti Benedica....

 

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget