2026

 




Hari Raya Pentekosta, 24 Mei 2026


Bahasa Pentakosta

Bahasa Cinta dan Saling Pengertian

Kisah para Rasul 2:1-11

Mazmur 104:1ab, 24ac, 29b, 30,1,34

1 Korintus 12:3b-7,12-13

Yohanes 20:19-23

******************************

 

Pada suatu hari, Si buta dan Si pincang berpapasan di persimpangan jalan yang sangat padat arus lalu-lintasnya. Karena cacat fisik yang dialami, maka terasa sulit bagi mereka untuk menyebrang jalan. Mereka berteriak meminta pertolongan, namun tidak seorang pun yang mempedulikan mereka dengan pelbagai alasan yang masuk akal.

Setelah usaha mereka terasa sia-sia, terbersitlah sebuah gagasan menarik dalam diri Si pincang. Si pincang mendekati Si buta dan berkata, “Kawan, saya yakin, jika kita mengharapkan bantuan manusia yang sehat, terasa sangat mustahil bagi kita untuk menyebrangi jalan ini karena padat dan ramainya arus lalu-lintas. Namun, tidak mustahil bagi kita untuk bisa menyebrangi jalan ini jika kita menyatukan mata dan kaki kita. Matamu menjadi mataku juga dan kakiku menjadi kakimu juga”

Si buta binggung dan bertanya, “Bagaimana mungkin matamu bisa menjadi mataku dan kakimu menjadi kakiku?

Jelas Si pincang, “Itu, sih, gampang. Matamu rusak sehingga tidak bisa melihat, tetapi kakimu tidak. Sedangkan, kakiku pincang sehingga tidak bisa berjalan, tetapi mataku bisa melihat dengan jelas arah jalan yang harus dilewati. Karena itu, pergunakan kakimu untuk berdiri di atas titian tanah ini dan berlangkah di jalan ini sembari membopong saya. Dengan mata yang jelas, saya mengamati ramainya arus lalu-lintas dan memberikan aba-aba mengenai arah jalan yang harus dilewati”.

Si buta menerima gagasan itu dengan senyum merekah seraya berkata, “Marilah kita satukan mata dan kaki kita.”. Kaki Si buta berpijak di atas tanah,..tangannya membopong Si pincang. Dengan pengamatan yang tajam, sembari memeluk erat tubuh Si buta, Si pincang mulai memberikan isyarat: Maju, berhenti…maju dan maju”. Akhirnya, dengan menyatukan kaki dan mata…hati mereka pun menyatu…Mereka pun mampu menyebrangi jalan kendati arus lalu-lintas dipadati aneka jenis kendaraan.

Peristiwa Pentakosta adalah peristiwa lahirnya persekutuan iman dan kasih yang baru, yaitu Gereja. Persekutuan ini terbentuk karena manusia yang berasal dari aneka lapisan suku: Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Frigia, Pamfilia, Mesir, Libia, Roma, Yahudi, Kreta dan Arab menyatukan mata, hati, gerakan hati dan iman mereka sebagai pengikut Kristus. Wujud kesatuan persekutuan ini terbina apik sehingga mereka rela berbagi, saling mendukung dan mengisi kekurangan dalam hidup mereka sebagaimana tercermin dalam cara hidup jemaat perdana. Satu-satunya daya vital yang mempersatukan mereka dalam persekutuan iman ini adalah Cinta. Cinta, serentak melunturkan tingginya rasa ego di dalam diri mereka; mempersatukan dan menggerakkan rasa peduli, empati dan kemauan untuk berbagi dalam hidup mereka. Jika cara hidup Jemaat Perdana dan resep manjur dari Si Buta dan Si Pincang senantiasa terpupuk dalam sanubari kita: Hartamu menjadi hartaku… Milikku menjadi milikmu… Matamu menjadi mataku… Kakimu menjadi kakiku.. maka tidak mustahil, saat ini juga akan tercipta langit dan bumi yang baru..Gereja yang berwajah baru.

Namun, jika kita cermati kenyataan yang ada, patut diakui bahwa cara hidup Jemaat Perdana dan resep manjur Si Buta dan Si Pincang semakin luntur dalam persekutuan iman kita saat ini. Hal ini terjadi karena tingginya egoisme diri dan lunturnya semangat cinta dalam diri manusia Katolik. Hukum Cinta, dasar dari segala hukum, hukum baru yang dimaklumatkan di saat turunnya Roh Kudus pada peristiwa Pentakosta, seolah-olah hanya terpahat dan tertulis di atas prasasti batu, bukan di dalam hati sanubari kita sehingga dengan mudah saling mengabaikan, saling memeras dan menindas, cuek dan tidak peduli, hilangnya rasa simpati dan empati, tidak mau repot dan acu tak acu kepada sesama yang lain. Hidup kita menjadi ajang persaingan untuk saling memeras dan mematikan, bukan sebagai ajang untuk berbagi cinta, padahal kita semua adalah insan pencinta dan pewarta cinta. Kalau boleh, saya lukiskan kenyataan hidup kita saat ini, dengan kenyataan ini:

**************

Dua orang pengunjung melihat seorang pria berpakaian mewah keluar dari Gereja. Dia memakai jam tangan emas dan sepasang cincin mahal dijarinya. Di depan Gereja, pria itu segera dikerumuni dan dikerubuti oleh sekelompok pengemis. Pria kaya itu tidak mempedulikan mereka; bahkan ia mengusirnya dengan muka masam dan kata-kata yang menyakitkan. Tidak lama kemudian, sebuah sedan BMW hitam keluar dari tempat parkir Gereja dan berhenti tepat di depan pria kaya itu.

Mobil itu kabur bersama pria kaya itu. Para pengunjung bertanya kepada yang lain, “Siapakah pria kaya itu? “Pastor baru! Jawab pengunjung itu. “Aneh, ya…di Gereja, baru saja ia membawahkan suatu kotbah yang indah! Tentang apa? “Tentang mencintai orang miskin”.

Anekdot ini melukiskan kenyataan umum sikap kaum berjubah. Sikap ini terjadi karena hukum cinta hanya terpahat di bibir, bukan di hati.

Peristiwa Pentakosta, saat turunnya Roh Kudus menjadi awal masa Perjanjian Baru. Pada saat itu juga dimaklumkan hukum baru, yaitu hukum cinta yang menjadi dasar segala hukum. Itu berarti, dengan hukum cinta, Allah tidak hanya memberikan pelbagai aturan untuk menertibkan kehidupan manusia, tetapi memberikan Roh-Nya sendiri agar manusia lebih kreatif dalam mencintai Allah dan sesamanya.

Karunia Roh adalah Karunia untuk Mencinta dan Bahasa Roh adalah Bahasa Cinta (Bukan bahasa yang membuat orang tenggeng dan berbicara tanpa kata). Karunia Roh ini menyebabkan manusia mampu berbicara dalam pelbagai bahasa, yaitu bahasa cinta dan saling pengertian. Karunia Roh juga memampukan manusia mengkomunikasikan pengalaman imannya sehingga dapat hidup lebih rukun dan lebih bersatu; peduli, empati, saling mendukung dan mengisi kekurangan dalam hidup. Kalau, dahulu, manusia tercerai-berai karena kesombongan untuk membangun menara Babel, kini dalam kekuatan, Roh manusia dipersatukan dalam bahasa cinta; bahasa kasih dan saling pengertian.

Tidak jarang para penyaksi Kristus saat ini yang memberikan penafsiran harafia akan arti bahasa Roh yang sesungguhnya. Bahasa Roh yang dianugerahkan Yesus adalah bahasa yang bisa dimengerti oleh siapa pun saja, yaitu tindakan kasih; perbuatan baik; bahasa kasih/bahasa cinta. Jika saya memberikan sesuap nasi kepada orang Etiophia di saat lapar, dia pun akan tersenyum dan mengucapkan berganda terimakasih kepada saya melaui senyumannya, karena saya tahu bahwa dia senang dan dia akan berbuat baik kepada saya. Jika saya mendampingi dan menuntun seorang tua dari desa yang tersesat di kota ke alamat yang di tuju, sementara saya tidak mengerti bahasanya, dia akan tahu bahwa saya akan membantunya; dia akan mengucapkan terimakasih berganda kepada saya melalui tatapan matanya yang ramah dan saya pun mengerti akan rautnya yang syarat makna walau tanpa bahasa.

Buah Roh

Dalam bahasa Paulus, bahasa Roh adalah buah Roh: kasih, kegembiraan, kecintaan akan kedamaian, kesabaran, kemurahan hati, kesetiaan, kelemahlembutan, pengertian, simpati dan empati, penguasaan diri (Gal 5:22). Setiap pengikut Kristus yang bangkit dituntut untuk senantiasa mengisi diri dan kehidupan dengan buah-buah Roh; gizi rohani di dalam kehidupan kita sehingga tubuh dan jiwa kita menjadi sehat; memungkinkan kita untuk keluar mengubah hati ribuan orang yang mendambakan cinta dan miskin akan cinta. Panggilan yang kita emban akan  bermakna apabila api Roh yang diterima diteruskan untuk membakar dan mengubah orang lain dan dunia sekitarnya.

 

Melakukan Yang Baik

Pengikut Kristus yang bangkit adalah setiap pribadi yang sudah dibakar oleh Api Roh Kristus. Dengan datangnya dan dibakarnya dengan Api Roh itu, maka setiap pengikut Kristus memiliki kecenderungan untuk melakukan hal yang baik; menjadi manusia yang dinamis karena setiap saat mengalami perubahan ke arah yang baik. Api Roh Kristus membakar dan mengubah pengikut-Nya tanpa henti sehingga membuat semua orang tercengang, terkagum dan memberikan diri mereka sebagai orang yang terbaptis.

Masihkah Api Roh Kristus bernyala di dalam diri kehidupan kita; di dalam keluarga dan komunitas kita, di dalam Gereja, stasi dan lingkungan kita? Masihkah kehadiran saya, pribadi yang sudah dibakar dengan Api Roh Ilahi membawa mekar-mekar cinta, simpati dan kasih sayang kepada sesama? Jika kehadiran saya menyatukan, menyembuhkan, menciptakan kebaikan, dirindukan dan terkadang mengganggu bagi siapa saja yang hidup dalam kegelapan, maka saya sudah hidup dalam Api Roh. Namun, jika kehadiran saya membawa pelbagai kehancuran, keretakan, pertikaian, pemerasan, itu berarti yang ada dalam diri saya, bukanlah Roh Cinta, melainkan roh Idi Amin, Hitller, Beelzebul dan roh para teroris….

Juara Peras

Pada suatu hari, beberapa negara mengadakan pertandingan yang menarik, namun unik. Yang terlibat dalam pertandingan itu adalah beberapa wakil dari negara-negara berkulit hitam, Bule, Kuning dan Sawo matang. Jenis acara yang dipertandingkan sesungguhnya tidak istimewa; hanya memeras handuk basah. Siapa yang berhasil memeras dan mengucurkan air lebih banyak dari handuk yang basah itu, dialah yang dinyatakan sebagai sang juara.

 Pertama: orang hitam yang terkenal kuat dan perkasa. Diiringi tempik sorang para penonton, si hitam yang perkasa mengangkat handuk dan memeras sekuat tenaganya hingga sobek. Namun air perasan hanya segelas yang tertampung.

Kedua: Orang bule yang tersohor karena keangkuhannya dan terkenal canggih karena teknologinya. Walau berkutat hingga kehabisan tenaga, hingga keringgat dingin bercucuran, air perasan yang tertampung hanya setengah ember.

Ketiga: Orang berkulit kuning yang menguasa dua pertiga penduduk dunia dengan segala kecerdikan dan keuletannya. Diakui bahwa mereka meraja lela di jalanan; di pasar dan istana orang berpangkat. Namun, ketika mereka memeras handunk yang basah, air yang mengucur hanya seember saja.

Keempat: Orang berkulit sawo matang, wakil negara kita. Sosoknya kecil, kerempengan; pucat-pasit hingga wakit negara lain mencibir bibir kala memandangnya. Mana munkin manusia sekurus ini bisa menandingi kita? Namun, aksi si sawo matang justru mencengangkan mereka. Walaupun si sawo matang ini terhuyung saat mengangkat handunh, namun ketika memeras, air perasan bertumpah-ruah memenuhi isi ruangan perlombaan. Akhirnya si sawo matang dinobatkan sebagai sang juara.

Dengan takjub, para lawanya bertanya, “Sungguh mengherankan. Bagaimana mungkin Anda yang kurusan ini dapat memeras handuk hingga airnya bertumpah ruah?

Sambil membusungkan dadanya, si sawo matang yang kurusan menjawab, “Hai tuan-tuan. Anda tidak bisa menyaingi saya dalam jenis perlombaan ini. Di negeri saya, soal peras memeras merupakan pemandangan biasa dan sudah membudaya di hati kami. Setiap hari kami selalu mendengungkan moto hidup kami: Memasyarakatkan pemeras dan memeras masyarakat. Kami tidak memiliki hati lagi untuk sesama.

Mengapa sikap mayoritas manusia Indonesi demikian? Karena hati manusia Indonesia tanpa cinta....

 

Selamata Bermenung....

Salam Kasih...

Selamat Pentekosta....

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

 

 



Hari Minggu Paskah VII, 17 Mei 2026

Kisah para Rasul 1:12-14

Mazmur 27:1.4,7.8a

1 Petrus 4:13-16

Yohanes 17:1-11a

“Aku telah Memuliakan Engkau di Bumi

Dengan Menyelesaikan Pekerjaan-Pekerjaan-Mu”

*****************************************************

 

Mark Twain adalah seorang penulis terkenal Amerika. Dia sangat terkenal dan dikenal oleh dunia karena cerita-ceritanya yang menarik dan menggugah. Walaupun orangnya sangat kasar, namun karena kejeniusannya, maka dia tetap dikagumi oleh lingkaran sastra Amerika dan Eropa.

Pada suatu saat, Mark Twain diundang oleh Kaisar German supaya mereka saling mengenal. Ketika anak gadisnya mengetahui bahwa ayahnya diundang oleh seorang Kaisar, dia pun berkata kepada bapaknya, “Ayah, engkau mengenal hampir semua orang penting di dunia ini. Hanya satu sosok yang tidak ayah kenal, yaitu Allah, Sang Pencipta.”

Mungkin apa yang dikatakan anak gadis kepada ayahnya, Mark Twain berlaku untuk banyak orang, termasuk diri kita sendiri. Kita mengenal banyak orang dan mengetahui banyak hal, namun kita belum, bahkan tidak mengenal sosok Allah yang sesungguhnya. Ada di antara kita yang ingin mengenai Allah, namun tidak berusaha sungguh-sungguh untuk mengenal-Nya.

******************

Dalam Doa syukur-Nya kepada Allah, Bapa-Nya, Yesus berbicara mengenai bagaimana seharusnya mengenail Allah. “ Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar dan mengenai Yesus Kristus yang telah Engkau Utus” (Yohanes 17:3).

Dalam isi doa syukur-Nya ini, Yesus menyatakan bahwa sosok Allah yang sesungguhnya dikenal dalam diri-Nya dan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Dia adalah Sabda Kekal Allah yang menjelma menjadi manusia. Dia tinggal bersama kita (manusia) untuk menyatakan Wajah dan Hati Allah kepada kita.

Yesus menyatakan Wajah dan Hati Allah kepada kita melalui hidup-Nya sendiri, yaitu melalui perkataan, perbuatan dan pekerjaan-Nya. Seluruh kehidupan Yesus dirangkum dalam kata-kata agung ini: Wajah dan Hati Yesus adalah Wajah dan Hati Allah sendiri. Seluruh hidup Yesus adalah “Cerita mengenai Hidup Allah yang Mahaagung dan Mahamulia bagi kita dan untuk keselamatan kita”. Isi Cerita Hidup Allah dalam diri Yesus nyata dalam perkataan, perbuatan dan pekerjaan-Nya yang unik, menakjubkan dan penuh daya dalam hidup dan karya-Nya sejak penampilan-Nya di hadapan umum hingga kematian dan kebangkitan-Nya.

 

Sebagai Cerita Hidup Allah:

 

o   Yesus menyatakan Wajah dan Hati Allah yang peduli, setia kawan dan penuh bela rasa dengan berjalan keliling, menelusuri pertepian danau untuk menjumpai, menyapa dan menyinari jalan kehidupan para nelayan serta mengubah profesi mereka sebagai nelayan menjadi penjala manusia.

o   Yesus memuliakan Allah dengan menelusuri pinggiran desa dan kampung untuk menjumpai orang yang putus asa dan kehilangan harapan karena kesulitan hidup akibat penindasan, ketidakadilan, diskriminari, dilecehkan dan dibuang dari pusat kehidupan untuk memulihkan martabat manusiawi mereka.

o   Yesus memuliakan Allah dengan memasuki, mendekati dan menyentuh hati semua orang yang dijumpai-Nya untuk menyembuhkan penderitaan mereka akibat penyakit kusta, kerasukan roh jahat, buta, tuli, bisu, timpang.

o   Yesus memuliakan Allah dengan memasuki kawasan kumuh yang dihuni oleh pemungut cukai dan pelacur  kelas kakap untuk menyatakan bahwa mereka berharga di mata Allah dan menyembuhkan mereka.

 

Demi kemuliaan Allah dan untuk memuliakan Allah, Yesus rela “berjalan kaki,” menelusuri semua lorong kehidupan manusia sambil “berbuat baik” untuk sembari “menyalurkan cinta serta kebaikan Allah” kepada manusia, ciptaan-Nya. Yesus memperlihatkan cinta dan bela rasa Allah yang mendalam kepada kita yang hina karena dosa-dosa kita dalam kerelaan-Nya merendahkan dan menghambakan diri-Nya: Dia rela berlutut di depan kaki para murid-Nya  untuk mencuci kaki mereka dan rela menjadi Santapan Kehidupan bagi semua ciptaan-Nya agar semuanya beroleh hidup dan memperolehnya dalam kelimpahan. Dengan kerelaan-Nya menghambakan diri, Yesus menyatakan bahwa Allah yang Mahakuasa dan Mahaagung harus menjadi kecil dan hina supaya bisa tinggal dalam hati kita yang terbatas dan hina karena dosa serta bergerak dan bekerja dalam diri kita untuk mengubah kehinaan hati kita menjadi Takhta Kediaman-Nya yang mulia. Cinta kasih-Nya yang tulus hingga rela menghambakan diri-Nya adalah Kemuliaan Wajah dan Hati Allah yang Sejati.

Puncak dari pekerjaan Yesus untuk menyatakan Wajah dan Hati Allah serta memuliakan-Nya adalah cinta dan korban-Nya di kayu salib. Di puncak salib, Yesus menyatakan Wajah dan Hati Allah sebagai “Sumber Segalanya”, “Sumber Kehidupan bagi ciptaan-Nya. Semua yang dikerjakan-Nya berasal dari Bapa dan menyelesaikan semua pekerjaan-Nya dalam kesatuan-Nya dengan Bapa-Nya.

Semua pekerjaan yang dilakukan Yesus terarah pada satu tujuan, yaitu menyatakan cinta, kebaikan dan kedalaman bela rasa Allah kepada kita. Dia berjalan sambil “berbuat baik” untuk mengajarkan kita bahwa:

 

o   Kemuliaan Allah yang sesungguhnya adalah diri kita yang sungguh hidup dalam kasih Allah dan melakukan pekerjaan-pekerjaan kasih Allah.

o   Semua kebaikan dan keindahan dalam diri kita berasal dari Allah serta menuntun kita kepada cinta dan kebaikan Allah.

o   Diri dan kehidupan kita juga akan menjadi kemuliaan Allah apabila hidup kita menghasilkan buah yang baik melalui perbuatan-perbuatan cinta dan kebaikan, rela merendahkan diri untuk melayani dan berbela rasa kepada sesama.

 

Karena itu:

 

o   Marilah kita memuliakan Allah dalam diri kita “dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah”.

o   Pekerjaan Allah adalah pekerjaan yang kecil dan sederhana, namun akan membawa kita kepada kemuliaan apabila dilakukan dengan hati yang penuh cinta. Seorang ibu sedang kelelahan setelah seharian bekerja tanpa saat jedah. Namun setelah santap malam, dia rela dan tulus mendengarkan cerita anaknya mengenai kesulitannya mengikuti pelajaran di kelas serta membantu anaknya. Ibu ini sudah melakukan kebaikan dan sudah memuliakan Allah kepada anaknya. Seorang bapak sedang gundah gulana, merasa tertekan karena usahanya gagal. Namun dia tidak melampiaskan kekesalannya dengan minuman keras, memarahi istri dan anak-anaknya, tetapi mengambil rosario dan memanjatkan doa kepada Allah. Bapak ini sudah memuliakan Allah dengan mengalahkan setan gulana dan tertekan. Seorang Ikom (Ibu Komunitas di sebuah susteran) ingin marah karena kesalahan yang dilakukan suster novisnya. Namun, dia membendung amarahnya dengan memanggil dan mendengarkan cerita novisnya mengenai alasannya melakukan kesalahan. Ikom ini sudah memuliakan Allah melalui pekerjaannya.

o   Marilah kita merajut dan menenun hidup kita menjadi “cerita kemuliaan Allah” melalui kebaikan-kebaikan yang kita lakukan kepada sesama, terutama kepada orang-orang yang membenci dan memusuhi kita.

 

 

Selamat Bermenung...

Salam Kasih...

Buona Domenica....

Dio Ti Benedica....

 

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 


Hari Raya Kenaikan Tuhan

"Terangkat, Sambil Memberi Berkat"

Kisah para Rasul 1:1-11

Mazmur 47:2-3,6-7,8-9

Efesus 1:17-23

Matius 28:16-20

**************************************

Pada suatu hari, seorang Pastor Paroki yang berkarya di Kota Austerity memanjat menara Gereja agar semakin mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Dia ingin meneruskan Sabda Tuhan kepada umat di parokinya seperti yang dilakukan Musa.

Di atas menara ini, sang Pastor Paroki berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia pasti mendengarkan sesuatu yang dikatakan Tuhan kepadanya. Karena keyakinan inilah dia terpancing untuk berteriak sekeras-kerasnya dari puncak menara Gereja: “Tuhan, di manakah Engkau. Saya sama sekali tidak mendengarkan suara-Mu”.

Dalam keheningan, Tuhan justru menjawabnya: Saya di sini...di bawah...di tengah-tengah umat-Ku sendiri. Di manakah Engkau?

***********************

Kedekatan dengan Tuhan tidak terikat, tidak terpaku dan tidak bersarang di sebuah tempat yang tetap. Tuhan hanya terasa dekat, dialami kehadiran-Nya dan tinggal di tengah-tengah kita, umat-Nya hanya jika kita rela memberikan tumpangan dan satu-satunya tumpangan yang paling layak baginya adalah hati dan hidup kita. Kita akan merasakan kedamaian dan kegembiraan, bila kita saling membuka hati dan saling memberikan tumpangan.

Yakinlah… disaat kedekatan dengan Tuhan dirasakan dan dialami, maka seluruh alam ciptaan akan bergembira, sukacita akan menjadi penuh. Di saat kedekatan dengan Allah ada, maka kehidupan kita akan teratur dan hidup akan sehat: Siapa yang mengalami kedekatan dengan Allah, mengalami surga; siapa yang mengalami surga; membawa surga. Siapa yang membawa surga, mewartakan surga; siapa yang mewartakan surga, serentak menciptakan satu tanah air surgawi! Atau, di mana terasa kedekatan dengan Tuhan, di sana ada surga. Dia mana ada surga, di sana ada tanah air. Di mana ada tanah air, di sana ada perasaan Surgawi!

 

“Dan sementara Dia memberkati mereka, Ia meninggalkan mereka dan terangkat ke surga.”

Kalimat Injil ini tidak hanya menyingkapkan situasi yang terjadi di dalam Gereja Purba, tetapi juga situasi kaum Kristiani umumnya: situasi ditinggalkan!

Dalam situasi ini, Tuhan dirasakan sangat jauh; Dia tidak berada di tengah kehidupan kita...

Bernhard Lang merumuskan kenyataan ini dalam beberapa syair puisi ini:

Aku mendengar kegaduhan jalanan

Aku mendengar desiran angin di pepohonan

Tetapi Tuhan, suaramu tak kudengar

Tegurlah aku

Dan tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku

Supaya aku senantiasa mendengarkan suara-Mu

Sebagaimana kegaduhan jalanan

Dan jelas...

Seperti desiran angin di pepohonan

 

Banyak orang berpikir bahwa dengan kenaikan-Nya ke surga, Yesus meninggalkan panggung dunia; berpisah dari para rasul-Nya; dari orang kecintaan-Nya; dari kita dan akibat dari perpisahan itu, manusia gampang jatuh ke dalam suasana tanpa belaskasih, ke dalam situasi tanpa cinta dan tidak kenal kompromi.

Di saat Tuhan tidak hadir lagi secara fisik; di saat pikiran-Nya tidak lagi merajai budi kita dan karya keselamatan-Nya tidak lagi dilaksanakan-Nya, di saat itulah ada sikap pemerkosaan yang tidak mengenal batas. Di saat itulah Allah mati dalam hati dan kehidupan kita; kita menjadi serigala bagi manusia yang lain.

 

Sambil Memberi Berkat…

Namun, janganlah lupa bahwa“... sementara terangkat, Dia memberkati mereka.” Dari segi pendidikan dan pengetahuan, para murid bukanlah orang yang tepat untuk melanjutkan tugas perutusan-Nya di dunia ini. Dia tidak menolak dan juga tidak meragukan ketidakmampuan mereka. Justru dengan berkat dan daya ilahi-Nya, Dia akan memberdayakan mereka agar mampu menjalankan tugas yang ditanggungkan kepada mereka.

Di Betania, Yesus tidak menyampaikan wejangan atau ajaran apa pun. Yesus hanya mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Di sini Yesus bertindak sebagai Imam Agung yang memangku jabatan nabi, raja dan imam. Berkat-Nya di hari kenaikan ini serentak menciptakan jarak dan simbol yang mempersatukan. Melalui berkat-Nya, Yesus hadir; Dia menyertai para murid-Nya, bersatu dengan mereka, terutama dalam situasi kehidupan yang serba kritis dan menakutkan. Berkat Yesus justru membuat perpisahan terasa ringan, karena berkat-Nya merupakan perwujudan Sabda-Nya, “Aku senantiasa menyertai kamu hingga akhir zaman.” Karena itu, para rasul meninggalkan tempat pertemuan dengan Yesus dalam suasana hati gembira.

 

Makna Pesta Kenaikan

Kenaikan bukanlah akhir, melainkan awal. Dengan peristiwa Kenaikan ini, Yesus tidak berpulang ke tempat peristirahatan di masa tua, melainkan memasuki lingkup karya yang paling agung, paling tinggi dan efektif bersama Allah yang kekal. Berkat kenaikan-Nya ke surga, Yesus semakin intensif dan menyeluruh memperhatikan dunia dan kita semua. Karena itu, kenaikan-Nya menjadi awal dari karya-Nya yang menyeluruh.

 

 

Bukan Jauh, tetapi Dekat

Duduk di sebelah kanan tidak berarti menempati satu tugas atau jabatan yang jauh terpencil, tetapi justru sebaliknya. “Lihat, Aku menyertai kamu setiap saat, hingga akhir zaman.” Justru kenaikan ke surga memberikan arti yang umum, luas dan menyeluruh dari kuasa yang dimiliki Yesus. “Kepada-Ku diberi segala kuasa di surga maupun di bumi.” (Mat 28:18).

Secara praktis, bagi kita berarti: Bukan di mana ada surga, di sana ada Tuhan, melainkan di mana ada Tuhan, di sana ada surga.”

 

Berkat, Satu Gerakan Cinta

Kedekatan dan keakraban Yesus ini dirasakan oleh para Rasul melalui berkat-Nya.  Berkat-Nya serentak menjadi satu gerakan cinta yang berdaya perlindungan; pelimpahan kepercayaan melenyapkan rasa cemas dan tidak pasti. Berkat juga mengubah pengalaman hidup mereka: yang sedih menjadi gembira; yang ragu menjadi pasti; yang kecil hati menjadi besar hati; yang was-was menjadi berani.

************************

Paus Yohanes Paulus I, Pemimpin Gereja Semesta yang bertakhta hanya tiga puluh tiga hari berkisah tentang tiga orang Karninal yang terhormat. Ketiganya meninggal dan tiba bersamaan di gerbang Surga. Petrus menjumpai mereka; menyampaikan maafnya kepada karena kesibukannya sehingga tidak bisa mengurusi kepentingan mereka dan mempersilahkan mereka untuk menempati kursi-kursi yang ada. Mereka menunggu dan menunggu, tetapi tidak ada hal istimewa yang pantas mereka terima.

Dalam sekejap. Tibalah seorang Nyonya mudah bergaun indah dan Petrus segera mempersilahkannya masuk. Para Kardinal yang mulia keheranan. Salah seorang di antara mereka mengeluh, “Tampaknya pakaian kebesaran tidak mempu membuka pintu-pintu di sini!

Setelah menunggu dalam waktu yang lama, Petrus pun menjumpai ketiga Kardinal itu dan berkata kepada mereka: “Jika yang Mulia berkenan, saya akan menjelaskan duduk persoalan Nyonya mudah tadi. Dia adalah Putera seorang Milioner terkemuka. Dia berkeliling Eropa dengan sebuah Mercedes pemberian ayahnya. Dia mengalami kecelakaan naas dan meninggal di tempat kejadian. Jutaan manusia mendengar berita itu melalui media massa dan televisi. Mereka sangat terpukul dan menjerit: peristiwa kematian Nyona Mudah ini justru mengingatkan mereka akan kematian mereka sendiri. Karena kejadian itu, semakin banyak orang yang bertobat dan kembali kepada Allah dibandingkan dengan pertobatan yang dihasilkan oleh buku-buku ataupun oleh kotbah-kotbah Anda yang sesungguhnya sudah menerima urapan rahmat dan berkat istimewa dari Allah sendiri.

Petrus berkata lebih lanjut: Itulah sebabnya...saat ini Anda menyaksikan sendiri bahwa Nyonya Muda menghantar lebih banyak jiwa untuk kembali kepada Tuhan di Surga, daripada yang Anda bertiga lakukan...

Kita adalah manusia istimewa sebab dipanggil, dipilih dan diberdayakan Tuhan dengan berkat dan rahmat-Nya yang melimpah...sesungguhnya...kita lebih berperan untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan: menuntun yang sedih menjadi gembira; yang ragu menjadi pasti; yang kecil hati menjadi besar hati; yang was-was menjadi berani berkat pengalam kasih Tuhan dalam kehidupan kita dan akhirnya mereka dan kembali kepada Tuhan....

 

Selamat Bermenung...

Salam Kasih...

Buona Domenica...

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

 

 

 




Paus Leo: Peduli terhadap orang miskin itu sulit tetapi bagian integral dari kehidupan Kristiani

 

Dalam pertemuannya dengan para anggota Karitas Katolik Amerika Serikat, Paus Leo mendorong Affiliasi Karitas Amerika untuk tidak pernah menyerah pada keputusasaan sekalipun banyak tantangan, tidak ada pilihan lain bahwa kepedulian terhadap orang miskin adalah sebuah bagian integral dari kehidupan Kristiani yang otentik.

 

Paus Leo bertemu pada Senin (04/05) dengan para anggota Dewan Direksi Karitas Katolik Amerika Serikat, para anggota Karitas Internasional, lembaga amal gereja. Dalam sapaannya, Bapa Suci mengakui bahwa kesulitan pribadi dan institusional sering kali dihadapi oleh mereka yang berupaya mewartakan Injil melalui kepedulian terhadap kaum miskin dan yang sangat membutuhkan.

 

“Itu termasuk menemukan sumber yang memadai, menunjukkan kepada yang lain bahwa tipe dari pelayanan ini merupakan bagian intergral dari keautentikan kehidupan Kristiani, dan jangan berikan jalan kepada keputusasaan, secara khusus saat kita bertemu dengan mereka yang tidak dapat kita bantu dengan cara yang kita inginkan,” kata Bapa Suci.

 


Paus Leo mencatat bahwa Karitas Katolik Amerika Serikat “tidak berarti kebal terhadap tantangan-tantangan tersebut”.

 

“Belum lagi, itu persis ketika kita dihadapkan dengan rintangan yang mengharuskan kita belajar mendengarkan suara Yesus yang mengatakan kepada kita sekali lagi, ‘Saya besertamu selalu’” seru Bapa Suci.

 

Pada akhir Maret 2026, pemerintah Amerika Serikat memotong pendanaan untuk program yang dijalankan oleh Keuskupan Agung Miami, yang menyediakan layanan pendampingan bagi kaum minoritas selama beberapa dekade.

 

Operasi ‘Pedro pan’ telah membantu Kantor Pemukiman bagi Para Pengungsi menempatkan anak-anak dalam perawatan keluarga asuh atau panti asuhan dan menyatukan kembali mereka dengan anggota keluarga sejak tahun 1960.

 

Bapa Suci juga mendorong “upaya mulia” dari Karitas Katolik AS untuk melanjutkan “pelayanan belaskasih Tuhan, terutama kepada mereka yang paling hina di antara kita”.

 

“Dalam melakukannya, hendaknya kalian selalu berusaha untuk menemukan solusi atas situasi yang tidak  manusiawi, menyingkirkan penderitaan dari setiap individu maupun keluarga, dan meringankan beban dari mereka yang ditekan oleh kesulitan dan perselihan,” kata Bapa Suci. “Dalam semua situasi tersebut, kiranya Kasih Kristus melengkapi diri kalian dalam seluruh pekerjaan yang kalian lakukan”.

 

Karitas Katolik Amerika Serikat mencakup lebih dari 170 keuskupan yang menjadi anggotanya dan merupakan salah satu organisasi pelayanan terbesar di Amerika Serikat.

 

Bapa Suci mengingatkan bahwa kasih kepada sesama memberikan bukti nyata akan kasih sejati seorang Kristiani kepada Tuhan.

 

Para pelaku karitas Katolik, kata Bapa Suci, harus digerakkan oleh “keinginan untuk membawa kepada  yang lain bantuan material dengan kasih yang ada pada hati Yesus, sebab dari kasih inilah mereka akan menemukan kedamaian sejati dan martabat mereka dihormati”.

 

Melalui pendampingan kepada mereka yang kurang beruntung, Bapa Suci menambahkan, Karitas Katolik menyentuh Tubuh Kasih Kristus.

 

Pada bagian penutup, Bapa Suci Leo XIV mengajak Badan Direksi untuk mengetahui bahwa Kebangkitan Kristus “membuat segalanya menjadi baru” dan membiarkan karya organisasi dibimbing oleh pengharapan Paskah.

 

“Saya menyampaikan harapan terbaik untuk misi mulia Anda dan meyakinkan Anda serta semua kolega Anda bahwa saya akan selalu mengingat Anda dalam doa saya”.

 

 

 

 

 


KILAS BALIK, SENIN, 04 MEI 2026

 

Hari Pertama Pelatihan Khotbah

v  Hari pertama pelatihan khotbah berlangsung dengan suasana yang hidup dan penuh harapan. Para peserta hadir secara bertahap, sehingga pembukaan yang dijadwalkan pukul 10.00 WIB dimulai sekitar pukul 10.15 WIB. Keterlambatan kecil ini justru menjadi cermin realitas pelayanan pastoral; tidak selalu berjalan ideal, tetapi selalu sarat makna karena bersentuhan langsung dengan dinamika hidup umat.

v  Kegiatan dibuka dan dipandu oleh Kat. Alboin Sitanggang, S.Ag., lalu dilanjutkan dengan Ibadat Pembuka AsIPA yang dipimpin oleh Kat. Stefanus Hulu, S.Pd., M.Fil. Dalam suasana doa yang hening dan khidmat, para peserta diajak menyadari bahwa pelatihan ini bukan sekadar belajar teknik berbicara, melainkan sebuah perjalanan untuk semakin dekat dengan Sabda yang hidup_Sabda yang menggerakkan, menyapa, dan mengubah.

v  Dalam sambutannya, Ketua Tim RD. Marthin L. Halawa, S.Ag., M.Fil., menekankan pentingnya kesungguhan mengikuti setiap proses. Pelatihan ini menjadi bagian dari tindak lanjut hasil Sinode, sebuah panggilan nyata agar para pelayan Sabda mampu mewartakan Injil secara bertanggung jawab, tajam, dan menyentuh hati umat.

v  Pengenalan jadwal oleh Kat. Stefanus Hulu, S.Pd., M.Fil. sempat diwarnai gangguan teknis. Namun suasana segera mencair melalui sesi perkenalan antar paroki. Sapaan khas seperti “Ya’ahowu!!” dan “Horas!!” menggema penuh semangat, disambut tepuk tangan meriah_sebuah awal yang hangat, seolah menegaskan bahwa pelatihan ini bukan hanya tentang belajar, tetapi juga tentang membangun persaudaraan.

v  Sesi pertama dibawakan oleh RP. Dionisius Laia, OFMCap., S.Ag., Lic.Th., dengan tema Proses Persiapan dan Aneka Kerangka Khotbah. Ditekankan bahwa khotbah yang menyentuh bukanlah hasil spontanitas, melainkan buah dari doa, pergulatan dengan Kitab Suci, dan permenungan yang jujur. Peserta diperkenalkan berbagai kerangka khotbah_sebuah “peta jalan” yang membantu pewarta agar tidak tersesat dalam kata-kata, tetapi tetap setia pada pesan Injil.

v  Antusiasme peserta terasa nyata. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul bukan sekadar teoritis, melainkan berakar dari pengalaman konkret. Ada kerinduan yang kuat; bagaimana agar khotbah tidak hanya terdengar, tetapi benar-benar “mendarat” dan menghidupkan iman umat.

v  Kebersamaan semakin hangat saat makan siang. Percakapan ringan, tawa sederhana, dan perkenalan spontan menjadi “ruang tak resmi” yang justru mempererat persaudaraan_sebuah energi tersembunyi yang memperkaya seluruh proses pelatihan.

v  Sesi kedua masih bersama RP. Dionisius Laia, OFMCap., yang mengangkat kerangka khotbah berbasis pengalaman hidup yang diterangi Kitab Suci. Suasana semakin dinamis. Salah satu pertanyaan yang mengundang senyum adalah tentang durasi khotbah. Dengan mengutip Paus Fransiskus, beliau menegaskan: 7-10 menit sudah cukup-lebih dari itu, risiko kehilangan perhatian umat semakin besar. Pesan yang kuat, singkat, dan tepat sasaran jauh lebih “menggigit” daripada panjang tanpa arah.

v  Memasuki sore hari, RD. Marthin L. Halawa, S.Ag., M.Fil., membawakan materi tentang Seputar ilustrasi. Dalam sesi ini ditekankan bahwa ilustrasi digambarkan sebagai “bumbu”- bukan hidangan utama. Ia harus relevan, segar, logis, dan tidak berlebihan. Sumbernya bisa dari Kitab Suci, hidup para kudus, maupun karya sastra. Peserta diajak cermat: ilustrasi yang tepat bisa membuat Sabda terasa dekat, bahkan “menggoda hati” untuk direnungkan lebih dalam.

v  Sesi berikutnya oleh Kat. Ingatan Sihura, S.Ag., mengupas Seni Membawakan Khotbah. Ditekankan bahwa pewartaan tidak hanya soal isi, tetapi juga cara membawanya. Pewarta adalah duta Allah, bukan sekadar pembicara. Bahasa tubuh, intonasi, dan sikap batin menjadi bagian dari kesaksian itu sendiri. Para peserta tampak serius menyimak, meski sesekali muncul senyum kecil, antara paham dan masih mencerna.

v  Menjelang sesi malam, suasana di meja makan menjadi ruang perjumpaan yang hangat dan penuh warna. Para peserta duduk berkelompok, berbagi cerita ringan, pengalaman pelayanan, hingga kisah-kisah lucu yang memancing tawa. Di tengah hidangan sederhana, terjalin percakapan yang akrab-seolah jarak antar paroki perlahan menghilang. Ada yang saling bertukar ide tentang khotbah, ada pula yang sekadar menikmati kebersamaan sambil melepas lelah setelah rangkaian materi seharian. Momen ini terasa begitu “mengenyangkan”, bukan hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi relasi dan semangat pelayanan. Dari meja makan itu, tumbuh rasa persaudaraan yang diam-diam menguatkan-sebuah energi yang membuat setiap peserta semakin siap untuk kembali menyelami Sabda dengan hati yang lebih terbuka.

v  Setelah makan malam, sesi dilanjutkan oleh RD. Yusuf N. Lase, S.Fil., Lic.Th., mengenai Prinsip-Prinsip Penafsiran Kitab Suci. Peserta diajak masuk lebih dalam: memahami konteks, kesatuan Kitab Suci, dan keselarasan dengan iman Gereja. Diskusi berlangsung hidup. Bahkan muncul pertanyaan jenaka tentang “rumus rahasia” menemukan kata-kata indah. Jawabannya sederhana namun tajam: yang utama bukan keindahan kata, melainkan kesetiaan menjadi suara Kristus.

v  Menutup hari, Kat. Ingatan Sihura memandu penjelasan tugas latihan. Peserta mulai menyusun bahan khotbah mereka masing-masing-sebuah langkah konkret dari teori menuju praktik. Sesi diakhiri dengan doa bersama, menyerahkan seluruh proses kepada Tuhan.

v  Secara keseluruhan, hari pertama ini bukan hanya memberi pengetahuan, tetapi juga menyalakan api kerinduan. Para peserta tidak sekadar belajar menyusun khotbah, tetapi mulai merasakan panggilan untuk menghadirkan Sabda yang hidup, Sabda yang bukan hanya didengar, tetapi mampu menyentuh, menggugah, dan perlahan mengubah kehidupan umat.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget