Hari Raya Kenaikan Tuhan
"Terangkat, Sambil Memberi Berkat"
Kisah para Rasul 1:1-11
Mazmur 47:2-3,6-7,8-9
Efesus 1:17-23
Matius 28:16-20
**************************************
Pada suatu hari, seorang Pastor Paroki
yang berkarya di Kota Austerity memanjat menara Gereja agar semakin mendekatkan
dirinya kepada Tuhan. Dia ingin meneruskan Sabda Tuhan kepada umat di parokinya
seperti yang dilakukan Musa.
Di atas menara ini, sang Pastor Paroki
berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia pasti mendengarkan sesuatu yang dikatakan
Tuhan kepadanya. Karena keyakinan inilah dia terpancing untuk berteriak
sekeras-kerasnya dari puncak menara Gereja: “Tuhan, di manakah Engkau. Saya
sama sekali tidak mendengarkan suara-Mu”.
Dalam keheningan, Tuhan justru
menjawabnya: Saya di sini...di bawah...di tengah-tengah umat-Ku sendiri. Di
manakah Engkau?
***********************
Kedekatan
dengan Tuhan tidak terikat, tidak terpaku dan tidak bersarang di sebuah tempat
yang tetap. Tuhan hanya terasa
dekat, dialami kehadiran-Nya dan tinggal di tengah-tengah kita, umat-Nya hanya
jika kita rela memberikan tumpangan dan satu-satunya tumpangan yang paling
layak baginya adalah hati dan hidup kita. Kita akan merasakan kedamaian dan
kegembiraan, bila kita saling membuka hati dan saling memberikan tumpangan.
Yakinlah… disaat
kedekatan dengan Tuhan dirasakan dan dialami, maka seluruh alam ciptaan akan
bergembira, sukacita akan menjadi penuh. Di saat kedekatan dengan Allah ada,
maka kehidupan kita akan teratur dan hidup akan sehat: Siapa yang mengalami
kedekatan dengan Allah, mengalami surga; siapa yang mengalami surga; membawa
surga. Siapa yang membawa surga, mewartakan surga; siapa yang mewartakan surga,
serentak menciptakan satu tanah air surgawi! Atau, di mana terasa kedekatan
dengan Tuhan, di sana ada surga. Dia mana ada surga, di sana ada tanah air. Di
mana ada tanah air, di sana ada perasaan Surgawi!
“Dan sementara Dia memberkati mereka, Ia meninggalkan mereka dan terangkat
ke surga.”
Kalimat
Injil ini tidak hanya menyingkapkan situasi yang terjadi di dalam Gereja Purba,
tetapi juga situasi kaum Kristiani umumnya: situasi ditinggalkan!
Dalam
situasi ini, Tuhan dirasakan sangat jauh; Dia tidak berada di tengah kehidupan
kita...
Bernhard Lang merumuskan kenyataan ini dalam beberapa syair puisi ini:
Aku mendengar kegaduhan
jalanan
Aku mendengar desiran angin di
pepohonan
Tetapi Tuhan, suaramu tak
kudengar
Tegurlah aku
Dan tunjukkanlah jalan-Mu
kepadaku
Supaya aku senantiasa
mendengarkan suara-Mu
Sebagaimana kegaduhan jalanan
Dan jelas...
Seperti desiran angin di
pepohonan
Banyak orang
berpikir bahwa dengan kenaikan-Nya ke surga, Yesus meninggalkan panggung dunia;
berpisah dari para rasul-Nya; dari orang kecintaan-Nya; dari kita dan akibat
dari perpisahan itu, manusia gampang jatuh ke dalam suasana tanpa belaskasih,
ke dalam situasi tanpa cinta dan tidak kenal kompromi.
Di saat Tuhan
tidak hadir lagi secara fisik; di saat pikiran-Nya tidak lagi merajai budi kita
dan karya keselamatan-Nya tidak lagi dilaksanakan-Nya, di saat itulah ada sikap
pemerkosaan yang tidak mengenal batas. Di saat itulah Allah mati dalam hati dan
kehidupan kita; kita menjadi serigala bagi manusia yang lain.
Sambil Memberi Berkat…
Namun,
janganlah lupa bahwa“... sementara terangkat, Dia memberkati mereka.” Dari segi
pendidikan dan pengetahuan, para murid bukanlah orang yang tepat untuk
melanjutkan tugas perutusan-Nya di dunia ini. Dia tidak menolak dan juga tidak
meragukan ketidakmampuan mereka. Justru dengan berkat dan daya ilahi-Nya, Dia
akan memberdayakan mereka agar mampu menjalankan tugas yang ditanggungkan
kepada mereka.
Di Betania,
Yesus tidak menyampaikan wejangan atau ajaran apa pun. Yesus hanya mengangkat
tangan-Nya dan memberkati mereka. Di sini Yesus bertindak sebagai Imam Agung
yang memangku jabatan nabi, raja dan imam. Berkat-Nya di hari kenaikan ini
serentak menciptakan jarak dan simbol yang mempersatukan. Melalui berkat-Nya,
Yesus hadir; Dia menyertai para murid-Nya, bersatu dengan mereka, terutama
dalam situasi kehidupan yang serba kritis dan menakutkan. Berkat Yesus justru
membuat perpisahan terasa ringan, karena berkat-Nya merupakan perwujudan
Sabda-Nya, “Aku senantiasa menyertai kamu hingga akhir zaman.” Karena itu, para
rasul meninggalkan tempat pertemuan dengan Yesus dalam suasana hati gembira.
Makna Pesta Kenaikan
Kenaikan
bukanlah akhir, melainkan awal. Dengan peristiwa Kenaikan ini, Yesus tidak
berpulang ke tempat peristirahatan di masa tua, melainkan memasuki lingkup
karya yang paling agung, paling tinggi dan efektif bersama Allah yang kekal.
Berkat kenaikan-Nya ke surga, Yesus semakin intensif dan menyeluruh
memperhatikan dunia dan kita semua. Karena itu, kenaikan-Nya menjadi awal dari
karya-Nya yang menyeluruh.
Bukan Jauh, tetapi Dekat
Duduk di
sebelah kanan tidak berarti menempati satu tugas atau jabatan yang jauh
terpencil, tetapi justru sebaliknya. “Lihat, Aku menyertai kamu setiap saat,
hingga akhir zaman.” Justru kenaikan ke surga memberikan arti yang umum, luas
dan menyeluruh dari kuasa yang dimiliki Yesus. “Kepada-Ku diberi segala kuasa
di surga maupun di bumi.” (Mat 28:18).
Secara praktis,
bagi kita berarti: Bukan di mana ada surga, di sana ada Tuhan, melainkan di
mana ada Tuhan, di sana ada surga.”
Berkat, Satu Gerakan Cinta
Kedekatan dan
keakraban Yesus ini dirasakan oleh para Rasul melalui berkat-Nya. Berkat-Nya serentak menjadi satu gerakan
cinta yang berdaya perlindungan; pelimpahan kepercayaan melenyapkan rasa cemas
dan tidak pasti. Berkat juga mengubah pengalaman hidup mereka: yang sedih
menjadi gembira; yang ragu menjadi pasti; yang kecil hati menjadi besar hati;
yang was-was menjadi berani.
************************
Paus Yohanes Paulus I, Pemimpin Gereja
Semesta yang bertakhta hanya tiga puluh tiga hari berkisah tentang tiga orang
Karninal yang terhormat. Ketiganya meninggal dan tiba bersamaan di gerbang
Surga. Petrus menjumpai mereka; menyampaikan maafnya kepada karena kesibukannya
sehingga tidak bisa mengurusi kepentingan mereka dan mempersilahkan mereka
untuk menempati kursi-kursi yang ada. Mereka menunggu dan menunggu, tetapi
tidak ada hal istimewa yang pantas mereka terima.
Dalam sekejap. Tibalah seorang Nyonya
mudah bergaun indah dan Petrus segera mempersilahkannya masuk. Para Kardinal
yang mulia keheranan. Salah seorang di antara mereka mengeluh, “Tampaknya
pakaian kebesaran tidak mempu membuka pintu-pintu di sini!
Setelah menunggu dalam waktu yang
lama, Petrus pun menjumpai ketiga Kardinal itu dan berkata kepada mereka: “Jika
yang Mulia berkenan, saya akan menjelaskan duduk persoalan Nyonya mudah tadi.
Dia adalah Putera seorang Milioner terkemuka. Dia berkeliling Eropa dengan
sebuah Mercedes pemberian ayahnya. Dia mengalami kecelakaan naas dan meninggal
di tempat kejadian. Jutaan manusia mendengar berita itu melalui media massa dan
televisi. Mereka sangat terpukul dan menjerit: peristiwa kematian Nyona Mudah
ini justru mengingatkan mereka akan kematian mereka sendiri. Karena kejadian
itu, semakin banyak orang yang bertobat dan kembali kepada Allah dibandingkan
dengan pertobatan yang dihasilkan oleh buku-buku ataupun oleh kotbah-kotbah
Anda yang sesungguhnya sudah menerima urapan rahmat dan berkat istimewa dari
Allah sendiri.
Petrus berkata lebih lanjut: Itulah
sebabnya...saat ini Anda menyaksikan sendiri bahwa Nyonya Muda menghantar lebih
banyak jiwa untuk kembali kepada Tuhan di Surga, daripada yang Anda bertiga
lakukan...
Kita adalah manusia istimewa sebab
dipanggil, dipilih dan diberdayakan Tuhan dengan berkat dan rahmat-Nya yang
melimpah...sesungguhnya...kita lebih berperan untuk mendekatkan manusia kepada
Tuhan: menuntun yang sedih menjadi gembira; yang ragu menjadi pasti; yang kecil
hati menjadi besar hati; yang was-was menjadi berani berkat pengalam kasih
Tuhan dalam kehidupan kita dan akhirnya mereka dan kembali kepada Tuhan....
Selamat
Bermenung...
Salam Kasih...
Buona Domenica...
Dio Ti
Benedica....
Alfonsus Very Ara,
Pr

Posting Komentar
Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.