Minggu Paskah IV, 26 April 2026 Pencuri dan Perampok (Romo Very Ara) Kisah para Rasul 21:14a, 36-41 Mazmur 23:1-3a, 3b.4.5.6. 1 Petrus 2:20b-25 Yohanes 10:1-10

Minggu Paskah IV, 26 April 2026

Pencuri dan Perampok

Kisah para Rasul 21:14a, 36-41

Mazmur 23:1-3a, 3b.4.5.6.

1 Petrus 2:20b-25

Yohanes 10:1-10

*******************************

Setiap hari, di sebuah terminal kota sering terjadi keributan antara penumpang dengan  sopir angkot dan calo. Ada banyak penumpang yang diperas oleh sopir dan calo. Para penumpang yang seharusnya membayar Rp. 3.000 sering membayar Rp. 4.000 atau Rp. 5.000.

Apabila ada bus antar kota yang masuk terminal, sopir angkot dan calo berebutan penumpang bus tersebut. Mereka berlaku kasar (menarik tas penumpang) hanya demi pemasukan harian mereka. Akibatnya, banyak di antara penumpang yang kehilangan tas atau barang bawaan mereka yang lain.

Semrawutnya keadaan angkutan kota di terminal sudah menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Akibatnya, perkelahian pun kerap terjadi; pemerasan menjadi pemandangan biasa dan permainan tarif terjadi sesuka perut sopir dan calo. Caci maki pun senantiasa menggema di terminal.

Ketika pejabat yang berurusan dengan terminal didatangi, dengan gaya seorang bos besar, dia pun menjawab: “Saya belum mendapat laporan!. Kalau pun ada bos yang berulah/bertingkah seperti ini, maka betapa pedihnya derita masyarakat.

Masyarakat memiliki gembala yang hatinya tidak pernah mengerti kesulitan yang mereka alami. Gembala masyarakat selalu membiarkan kawanan dombanya diterkam oleh serigala yang ganas, bahkan mereka sendirilah yang menjadi serigala bagi masyarakat.

*****************

Dalam Sabda Injil-Nya ini, di saat Yesus mengucapkan kalimat, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu...” pada saat itu, Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Allah yang Ber-Sabda; Allah yang mengenakan pada diri-Nya Daging Insani. Dia adalah Sabda Kekal Allah yang Mem-Pribadi; Allah yang Hidup dalam Rupa Manusia.

Kodrat Yesus sebagai Allah yang Ber-Sabda, yang mengenakan Daging Insani, dinyatakan dalam Sabda yang menyusul-Nya. Sabda yang Keluar dari Mutut-Nya adalah Sabda Kekal Allah.

Dalam Sabda-Nya ini, Yesus menyasar para Pemuka Bangsa Israel yang dipilih dan diutus Allah untuk menjadi “gembala“ yang berperan sebagai “penjaga kawanan Domba Israel,” yaitu Umat Beriman Pilihan Allah sendiri. Akan tetapi, mereka justru merampas kawanan domba Allah, yaitu Umat Israel dari rangkulan kasih-Nya seperti pencuri dan perampok.

Dengan penuh kewibawaan, para Pemuka Bangsa Yahudi mengajar dan membina umat Israel, Umat Beriman Pilihan Allah agar mereka memiliki pemahaman iman yang benar mengenai Allah. Namun, dalam kenyataannya,  mereka justru mencuri dan merampok iman Umat Beriman Pilihan Allah: mereka meletakan beban hukum yang sangat berat dan sangat sulit untuk dipenuhi oleh Umat Beriman Pilihan Allah; mereka mengutamakan dan memperjuangkan kepentingan sendiri tanpa mempedulikan Umat Beriman Pilihan Allah yang sangat dan selalu merindukan cinta, kasih sayang, keadilan, kedamaian dan kesejahteraan. Mereka menjadikan Bait Suci sebagai tempat bisnis dan perjudian.

Apabila para Pemuka Bangsa Israel menjalankan fungsi mereka sesuai dengan Kehendak Allah dan menjawab kerinduan umat-Nya, mereka pasti tidak akan pernah takut menghadapi Yesus. Mereka pasti mendengarkan Yesus dengan sikap batin yang tenang, tanpa curiga. Akan tetapi, sikap mereka justru sebaliknya: mereka mencurigai, menolak dan membenci-Nya.

Sikap dan tindakan para pemuka Bangsa Yahudi sangat bertentangan dengan sikap dan tindakan Yesus. Kehadiran Yesus, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan justru mencerahkan, membuka pikiran dan hati, tidak pernah mencuri dan selalu memberikan kehidupan-Nya kepada mereka melalui Sabda Cinta, Kerahiman dan Belas Kasih-Nya yang Merangkul dan Mengampuni. Yesus tidak pernah memeras, apalagi menghukum dan membunuh. Yesus justru mengalirkan kehidupan dan kemerdekaan, kebebasan dan keselamatan.

Setiap per-Kata-an, Sabda yang keluar dari mulut-Nya serentak menjadi Santapan dan Penunjuk Jalan. Sabda-Nya menerangi dan menanamkan rasa percaya diri dalam kawanan-Nya serta menuntun setiap kawanan-Nya untuk berkembang dalam kemerdekaan batin. Per-Kata-an, Sabda-Nya tidak memanjakan, tetapi tegas agar setiap kawanan-Nya mampu menjatuhkan pilihan yang jelas serta berkembang ke arah kepenuhan.

Yesus menegaskan bahwa Dia adalah Gembala yang Baik. Dalam bahasa Yunani, kata yang dipergunakan adalah kalos: mulia, indah, sempurna, berharga, mengagumkan. Yesus adalah Gembala yang Baik, artinya Dia adalah Sang Gembala yang Sempurna dan Mengagumkan.

Sebagai Gembala yang Baik, Sempurna dan Mengagumkan, Yesus menunjukan jalan menuju kehidupan yang penuh, memberikan perhatian kepada yang lemah, tersesat dan membutuhkan; Dia hadir, mencintai dan mendukung kawanan domba-Nya.

 

o   Domba-domba tahu bahwa mereka membutuhkan gembala untuk memberikan mereka makan; memperhatikan, mencintai, menjaga, melindungi, menuntun dan membantu mereka untuk berkembang.

o   Domba-domba membutuhkan gembala yang baik, berbela rasa, kompeten; gembala yang serentak bertindak sebagai guru yang baik untuk membantu mereka berkembang.

o   Domba-domba membutuhkan keteladan gembala agar mereka berkembang dan mampu membuat pilihan yang baik.

o   Domba-domba juga membutuhkan keteladanan gembala agar berkembang menuju kematangan rohani; berkembang dalam hidup kasih dan doa.

 

Saat ini, banyak domba yang kesepian, kehilangan arah dalam kehidupan masyarakat yang kaya dan materialis:

o   Mereka mencari pribadi-pribadi yang bisa menjadi gembala untuk menuntun mereka menuju hidup yang baik dan sehat

o   Mereka mencari pribadi-pribadi yang bisa menjadi gembala untuk menuntun mereka agar bisa menemukan makna hidup yang sesungguhnya.

o   Mereka mencari pribadi-pribadi gembala yang sungguh-sungguh memberikan perhatian; bisa menyelami dan memahami serta menghormati mereka.

 

Menjadi Gembala yang Baik Seperti Yesus

Namun, untuk menjadi gembala yang baik, kita harus belajar menjadi domba atau pengikut yang baik. Sebelum menegaskan keberadaan diri-Nya sebagai Gembala yang Baik, Yesus menjadi Anak Domba yang Baik: Dia mendengarkan Bapa dan taat kepada-Nya.

Bukankah kita harus menjadi anak yang baik agar bisa menjadi orang tua yang baik? Apakah kita bisa mengajar orang lain kalau kita belum belajar dari orang lain? Bagaimana mungkin kita bisa mencintai kalau kita belum pernah dicintai?

Yesus, Cahaya Dunia, memanggil dan mendidik murid-murid-Nya untuk menjadi cahaya bagi dirinya dan dunia. Yesus, Gembala yang Baik memanggil dan mendidik kita untuk menjadi menjadi matang secara rohani agar kita bisa membantu pribadi-pribadi yang membutuhkan; untuk mencari pribadi-pribadi yang hilang, terpuruk, tertindas dan tersingkirkan.

Apabila kita adalah seorang gembala (Imam, Suster, Orang Tua, Guru), marilah kita renungkan perilaku kita di hadapan domba-domba yang dipercayakan kepada kita.

 

o   Sosok gembala yang baik adalah gembala yang mengenal pribadi-pribadi gembalaannya dengan namanya; Gembala yang mengambil dan memberikan waktu-hati untuk pribadi gembalaannya, rela dan terbuka untuk mendengarkan, menyatukan dirinya dengan pribadi gembalaannya serta tegas menyatakan kepada pribadi gembaannya itu bahwa dia dicintai, bermakna dan berharga.

o   Sesosok gembala hanya menjadi gembala yang baik apabila tidak memiliki keinginan untuk memiliki, menguasai dan memanipulasi, tetapi justru mempercayai, menghormati dan mengasihi.

o   Menjadi gembala yang Baik berarti keluar dari kungkungan egoisme agar bisa memberikan hati dan perhatian kepada setiap pribadi yang menjadi tanggungan kita; agar bisa menyatakan keindahan dan arti keberadaan setiap pribadi serta membantu mereka untuk berkembang, mengapai kehidupan yang penuh dan lebih manusiawi.

o   Menjadi gembala yang baik tidaklah muda sebab dituntut untuk mendengar dan menerima kenyataan orang lain dan konflik yang dialaminya. Menjadi gembala yang baik juga tidak muda sebab harus bersentuhan dengan ketakutan dan aneka hambatan dalam diri sendiri dalam berelasi dengan orang lain, atau untuk mencintai agar pribadi yang lain hidup.

 

Akhirnya, untuk menjadi gembala yang baik, seseorang tidak seharusnya sempurna, karena tiada seorang manusia pun yang sempurna. Untuk menjadi gembala yang Baik seseorang dituntut untuk bersikap rendah hati dan terbuka; mengenali kesalahan dan dorongan yang tidak teratur dalam dirinya dan dengan rendah hati memohonkan ampun-maaf apabila bertindak tidak adil.

Apakah kita sudah menjadi gembala yang baik bagi orang-orang yang dipercayakan kepada kita dan bagi orang-orang yang berada di sekitar kehidupan kita?

 

Selamat Bermenung...

Salam Kasih....

Buona Pasqua...

Dio Ti Benedica ......

 

Alfonsus Very Ara, Pr

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget